tugas 6 manajemen
A.
Pengertian
Pendekatan
Pendekatan
pembelajaran diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang dalam proses
pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
bersifat umum. Adapun pendekatan merupakan unsur penting yang harus dikuasai pengajar sebelum mempersiapkan perencanaan pembelajaran.
Sebagai
pekerja profesional, seorang guru harus mendalami kerangkaacuan
pendekatan-pendekatan kelas, sebab di dalam penggunaannya ia harusterlebih
dahulu meyakinkan bahwa pendekatan yang dipilihnya untukmenangani sesuatu kasus
pengelolaan kelas merupakan alternatif yang terbaiksesuai dengan hakikat
masalahnya. Artinya seorang guru terlebih dahuluharus menetapkan bahwa
penggunaan sesuatu pendekatan memang cocokdengan hakikat masalah yang ingin
ditanggulangi. Ini tentu tidakdimaksudkan mengatakan bahwa seorang guru akan
berhasil baik setiap kaliia menangani kasus pengelolaan kelas. Sebaliknya,
keprofesionalan cara kerjaseorang guru adalah demikian sehingga apabila alternatif
tindakannya
yang pertama tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan, maka iamasih
mampu melakukan analisis ulang terhadap situasi untuk kemudian tiba pada
alternatif pendekat yang yang kedua, dan seterusnya.
B.
Sikap
Guru dalam Manajemen Kelas
Menurut Djamarah (2006 : 185) hendaknya guru harus
bersikap :
1. Hangat
dan antusias
Hangat dan antusias diperlukan dalam proses
belajar mengajar.guru yang hangat dan akrab engan anak didik
selalu menunjukkan antusias pada tugasnya atau pada aktivitasnya akan berhasil
dalam mengimplementasikan pengelolaan kelas
2.
Tantangan
Penggunaan kata-kata, tindakan, cara kerja atau
bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah anak didik untuk belajar
sehingga mengurangi kemungkinan munculnya tingkah laku yang menyimpang.
3.
Bervariasi
Penggunaan alat atau media atau alat bantu,gaya
mengajar guru, pola interaksi antara guru dan anak didik mengurangi munculnya
gangguan, kevariasian dalam penggunaan apa yang dsi sebut diatas merupakan
kunci untuk tercapainya pengelolaan kelas yang efektif.
4.
Keluesan
Keluesan tingkah laku guru untuk mengubah strategi
mengajarnya dapat mencegah kemungkinan munculnya gangguan anak didik serta
menciptakan iklim belajar mengajar yang efektif.
5. Penekanan pada hal-hal yang positif
Pada dasarnya,
dalam mengajar dan mendidik, guru harus menekankan pada hal-hal yang positif,
dan menghindari pemusatan perhatian anak didik pada hal-hal yang negatif.
Penekanan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian penguatan yang positif, dan
kesadaran guru untuk menghindari kesalahan Yang dapat mengganggu jalannya
proses belajar mengajar.
6.
Penanaman
disiplin diri
Tujuan akhir
dari pengelolaan kelas adalah anak didik dapat mengembangkan disiplin diri
sendiri. Karena itu,guru sebaiknya selalu mendorong anak didik untuk melaksanakan
disiplin diri sendiri dan guru sendiri hendaknya menjadi teladan mengenai
pengendalian diri dan pelaksanaan tanggung jawab. Jadi, guru harus disiplin
dalam segala hal bila ingin anak didiknya iku disiplin berdisiplin dalam segala
hal
C.
Peran
Guru Sekolah Dasar dalam Manajemen Kelas
Salah
satu tugas guru sebagai pendidik di sekolah adalah sebagai menajer. Seorang
guru harus mampu memimpin kelasnya agar tercipta pembelajaran yang optimal.
Fasilitas dan kondisi kelas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil
belajar siswa. Menurut Padmono (2011, 23) fasilitas kelas (instrumental in
put) berkaitan erat dengan terciptanya lingkungan belajar (environmental in
put) kondusif sehingga murid dengan senang dan sukarela belajar. Penataan fasilitas
dapat menjadi pendorong jika diorganisir secara baik. Di sinilah peran guru SD
dapat terlihat, adapun peran guru dalam memenej kelas agar tercipta
pembelajaran yang efektif sebagai berikut:
1. Peran
guru dalam pengorganisasian kelas
Organisasi
kelas yang tepat akan mendorong terciptanya kondisi belajar yang kondusif.
Pengorganisasian kelas ini pada dasarnya bersifat lokal, artinya organisasi
kelas tergantung guru, kelas, murid, lingkungan kelas, besar ruangan,
penerangan, suhu, dan sebagainya. Kita ketahui pada saat ini penataan kelas
secara tradisional yang menempatkan satu meja guru berhadapan dengan meja kursi
siswa. Kelas yang ditata secara tradisional tersebut menempatkan guru sebagai
pusat kegiatan dan sentra perhatian murid tampak sebagai objek pengajaran bukan
sebagai subjek yang belajar. Akibatnya aktivitas sebagian besar dilakukan guru
sedang murid hanya pasif menerima.
2. Peran
guru dalam pengaturan tempat duduk
Penataan
kelas sebagaimana diuraikan pada pengorganisasian kelas ditata fleksibel yang
mudah diubah sesuai pembelajaran yang akan dikembangkan guru. Penataan tempat
duduk dapat berbentuk :
a. Seating
chart
Penataan
tempat duduk yang didesain dalam chart dapat digambar sendiri oleh murid atau
sekelompok murid secara bergilir, sehingga keterbatasan penataan tempat duduk
secara tradisional ini dapat diminimalkan pengaruh buruknya..
b. Melingkar
Model
duduk seperti ini dapat digunakan guru dalam pembelajaran diskusi kelompok,
sehingga ada modifikasi untuk menghilangkan kejenuhan siswa.
c. Tapal
kuda
Model
ini sesuai untuk melaksanakan diskusi kelas yang dipimpin oleh guru atau ketua
diskusi yang dipilih siswa. Diskusi kelas akan meningkatkan keberanian
dibanding keberanian yang hanya muncul pada kelompok kecil.
3. Peran
guru dalam pengaturan alat-alat pelajaran
Alat-alat
pelajaran dapat klasifikasikan menjadi beberapa kelompok, antara lain: Menurut
kedudukannya; alat pelajaran dibedakan atas permanen dan tidak permanen.
Permanen jika alat pelajaran tersebut diletakkan di kelas secara terus menerus,
misalnya: listrik, papan tulis, dan sebagainya. Alat pelajaran tidak permanen
atau yang bergerak (movable) yaitu alat pelajaran yang dapat dipindah,
misalnya: kursi, OHP, mesin-mesin, peta, dan sebagainya. Menurut fungsinya; a)
alat untuk menulis; kapur, papan tulis, pensil, dan lain-lain; b) alat-alat
lukis; jangka, meter, segitiga, buku.
4. Peran
guru dalam pemeliharaan keindahan ruangan kelas
Motto
yang menyatakan “bersih adalah sehat dan rapi adalah indah” merupakan hal yang
tidak dapat dipungkiri. Setiap manusia memiliki cita rasa keindahan walaupun
derajat keindahannya berbeda. Keindahan akan memberikan rasa nyaman dan membuat
anak betah tinggal di tempat tersebut. Kelas yang diharapkan mengundang anak
untuk betah berada di dalamnya hendaknya dijaga kebersihan dan keindahannya.
Guru memiliki peran untuk mengorganisir siswanya agar dapat mendesain kelasnya
menjadi kelas yang indah. Keindahan dapat dicapai dengan beberapa cara, yaitu:
(a) menata ruangan menjadi rapi, misalnya; menata alat pelajaran sesuai
kelompoknya, menata buku sesuai tinggi buku, tebal buku, dan kelompok buku,
penataan alat pelajaran permanent yang sesuai dengan ruangan. Desain interior
yang harmonis akan merangsang anak untuk tenggelam dalam suasana akademik
(Immersion). Anak yang tenggelam dalam lautan ilmu pengetahuan akan mengalami
pembelajaran secara alamiah, nyata, langsung, dan bermakna, (b) penataan meja
guru, gambar-gambar merupakan factor pendukung tercapainya ruangan yang rapid
an indah.
5. Cahaya,
Ventilasi, Akustik dan Warna
Kelas
yang terlalu terang atau terlalu gelap kurang mendukung pembelajaran. Anak SD
berada pada tahap perkembangan yang menentukan, untuk itu menjaga kesehatan
anak merupakan salah satu tugas managemen kelas oleh guru (Suharsimi
Arikunto, 1989: 77). Kelas harus cukup memiliki ventilasi untuk pertukaran
udara sehingga anak merasa sejuk dan nyaman tinggal di kelas. Guru sering
kurang menyadari ruangan yang terang tetapi jendela tidak dibuka serta
kurangnya ventilasi menjadikan suara guru bergema, akibatnya anak kurang mampu
memusatkan perhatian pendengarannya pada suara guru, sebab terganggu oleh gema
suara. Untuk itu disamping membuka jendela digunakan untuk pertukaran udara,
maka juga berfungsi sebagai sarana untuk mengurangi gema. Warna disamping
memiliki arti juga membawa kesan terhadap orang yang melihat. Dinding sekolah
atau kelas berpengaruh terhadap siswa. Pemilihan warna sering tidak melibatkan
guru apalagi murid, sehingga kadang guru sendiri tidak betah tinggal di
kelasnya.
D.
Macam-macam
Pendekatan dalam Manajemen Kelas
Menurut
Syaiful Bahri, 18 pendekatan tersebut meliputi pendekatan kekuasaan, pendekatan
ancaman, pendekatan kebebasan, pendekatan resep, pendekatan pembelajaran ,
pendekatan perubahan tingkah laku, pendekatan suasana emosi dan hubungan
sosial, pendekatan proses kelompok dan pendekatan elektis atau pluralistik.
1.
Pendekatan
Kekuasaan
Pengelolaan
kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta
didik. Peranan guru disini adalah menciptkan dan mempertahankan situasi
disiplin kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada peserta didik
untuk menaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dalam norma yang mengikat untuk
ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itulah guru
mendekatinya. Di dalam kegiatan pembelajaran, factor kedisiplinan adalah
kekuatan utama untuk dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, karena
itu guru perlu menekankan pentingnya peserta didik untuk menaati peraturan yang
telah dibuat sebelumnya. Berbagai peraturan itu ibaratnya adalah “penguasa”
yang wajib untuk ditaati. Oleh sebab itu, guru harus mampu melakukan pendekatan
yang baik kepada peserta didik melalui peraturan ini, dan bukan kemauannya
sendiri.
2.
Pendekatan
Ancaman
Dari
pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas juga sebagai suatu
proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik. Tetapi dalam mengontrol
tingkah laku peserta didik dilakukan dengan cara memberikan ancaman, misalnya,
melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa. Ancaman disini sepatutnya tidak
dilakukan sesering mungkin dan hanya diterapkan manakala kondisi kelas sudah
benar-benar tidak dapat dikendalikan. Selama guru masih mampu melakukan
pendekatan lain di luar ancaman, maka akan lebih baik jika pendekatan dengan
ancaman ini ditangguhkan. Namun satu hal yang harus diingat, pendekatan ancaman
harus dilakukan dalam taraf kewajaran dan diusahakan untuk tidak melukai
perasaan peserta didik.
3.
Pendekatan
Kebebasan
Pengelolaan
diartikan sebagai suatu proses untuk membantu peserta didik agar merasa bebas
untuk mengerjakan sesuatu kapan dan dimana saja. Peranan guru adalah
mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan peserta didik, selama hal itu tidak
menyimpang dari peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama.
Terkadang, peserta didik tidak nyaman apabila ada seorang guru yang terlalu
over-protectif sehingga peserta didik tidak leluasa melakukan eksperimennya.
4.
Pendekatan
Resep
Pendekatan
resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat
menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru
dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar
ini digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan
guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep.
5.
Pendekatan
Pembelajaran
Pendekatan
ini didasarkan atas suatu anggapan bahwa dalam suatu perencanaan dan
pelaksanaan pembelajaran akan dapat mencegah munculnya masalah tingkah laku
peserta didik, dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan
ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah dan
menghentikan tingkah laku peserta didik yang kurang baik. Peranan guru adalah
merencanakan dan mengimplementasikan pelajaran yang baik.
6.
Pendekatan
Perubahan Tingkah Laku
Pengelolaan
kelas dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku peserta
didik dari yang kurang baik menjadi baik. Tingkah laku yang baik atau positif
harus dirangsang dengan memberikan pujian atau hadiah yang menimbulkan perasaan
senang atau puas. Sebaliknya, tingkah laku yang kurang baik dalam melaksanakan
program kelas harus diberi sanksi atau hukuman yang akan menimbulkan perasaan
tidak puas dan pada gilirannya tingkah laku tersebut akan dihindari
7.
Pendekatan
Suasana Emosi dan Hubungan Sosial
Pendekatan
pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial
(socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai kelompok individu
cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan). Menurut
pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau
suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana
emosional dan hubungan sosial yang positif, artinya ada hubungan yang baik dan
positif antara guru dengan peserta didik, atau antara peserta didik dengan
peserta didik. Di sini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi
itu, dan peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat.
8.
Pendekatan
Proses Kelompok
Pendekatan
kerja kelompok dengan model ini membutuhkan kemampun guru dalam menciptakan
momentum yang dapat mendorong kelompok-kelompok di dalam kelas menjadi kelompok
yang produktif. Disamping itu, pendekatan ini juga mengharuskan guru untuk
mampu menjaga kondisi hubungan antar kelompok agar dapat selalu berjalan dengan
baik.
9.
Pendekatan
Elektis atau Pluralistik
Pendekatan
elektis (electic approach) ini menekankan pada potensialitas, kreativitas, dan
inisiatif wali/ guru kelas dalam memilih berbagai pendekatan. Pendekatan
elektis disebut juga pendekatan pluralistic, yaitu pengelolaan kelas yang
berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk
dapat menciptakan dan mempertahankan suatu kondisi yang memungkinkan kegiatan
pembelajaran berjalan efektif dan efisien.
DAFTAR
RUJUKAN
Abdurrahman.
1994. Pengelolaan Pengajaran. Ujung
pandang: Bintang Selatan.
Djamarah Syaiful Bahri.2005.
Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta:
PT. Rineka Cipta.
Padmono, Y. 2011. Manajemen Kelas. Salatiga: Widyasari.
Bermanfaat sekali materinya.. Terimakasih
BalasHapusMantap materinya kak ��
BalasHapusBagus sekali materi yaa
BalasHapusMaksi kk, sangat bermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat kak👍
BalasHapusSangat bermanfaat kak, terimakasih.
BalasHapusTerimakasih, sangat membantu
BalasHapusTerima kasih materinya kak
BalasHapusMaterinya bermanfaat kak
BalasHapusSngat brmnfaat skli
BalasHapusTerimakasih share materinya sangat bermanfaat
BalasHapusterimakasih kak
BalasHapus