Tugas 9 Manajemen
A.
Faktor
yang Memepengaruhi Belajar
Prestasi
belajar yang dicapai seorang individu merupakan hasil interaksi antara berbagai
faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari
luar diri (faktor eksternal) individu. Pengenalan terhadap faktor-faktor yang
mempengaruhi prestasi belajar penting sekali artinya dalam rangka membantu
murid dalam mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya. Kedua faktor
tersebut saling mempengaruhi dalam proses belajar individu sehingga menentukan kualitas
hasil belajar.
1. Faktor
Internal
Faktor
internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat
mempengaruhi hasil belajar individu. Faktor-faktor internal ini meliputi faktor
fisiologis dan faktor psikologis, yaitu:
a. Faktor
fisiologis
Faktor-faktor
fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu.
Faktor-faktor ini dibedakan menjadi dua macam.
1) keadaan
tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat mempengaruhi aktivitas
belajar seseorang.
2) Kedua,
keadaan fungsi jasmani/fisiologis. Selama proses belajar berlangsung, peran
fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat mempengaruhi hasil belajar,
terutama panca indera.
b. Faktor
psikologis
Faktor–faktor
psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses
belajar. Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar
adalah :
1) Kecerdasan/intelegensi
siswa
Pada
umumnya kecerdasan diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksikan
rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat.
Dengan demikian, kecerdasan bukan hanya berkaitan dengan kualitas otak saja,
tetapi juga organ-organ tubuh lainnya.
2) Motivasi
Motivasi
adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektifan kegiatan belajar siswa.
Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar.
3) Ingatan
Kecakapan
merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah,
subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya. Dalam konteks
pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya
teknik pembelajaran yang digunakan pendidik.
4) Minat
Secara
sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi
atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Namun lepas dari kepopulerannya,
minat sama halnya dengan kecerdasan dan motivasi, karena memberi pengaruh
terhadap aktivitas belajar, ia akan tidak bersemangat atau bahkan tidak mau
belajar.
5) Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat
mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya. Sikap adalah gejala internal yang
mendimensi afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi atau merespons dangan
cara yang relatif tetap terhadap obyek, orang, peristiwa dan sebagainya, baik
secara positif maupun negatif (Syah, 2003).
6) Bakat
Faktor psikologis lain yang mempengaruhi
proses belajar adalah bakat. Secara umum, bakat (aptitude) didefinisikan
sebagai kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan
pada masa yang akan datang (Syah, 2003).
.
2. Faktor-faktor
eksogen/eksternal
Selain
karakteristik siswa atau faktor-faktor endogen, faktor-faktor eksternal juga
dapat memengaruhi proses belajar siswa.dalam hal ini, Syah (2003) menjelaskan
bahwa faktor-faktor eksternal yang memengaruhi balajar dapat digolongkan menjadi
dua golongan, yaitu factor lingkungan social dan factor lingkungan nonsosial.
a. Lingkungan
sosial
1) Lingkungan
sosial sekolah, seperti guru , administrasi, dan teman-teman sekelas dapat
memengaruhi proses belajar seorang siswa. Hubungan harmonis antra ketiganya
dapat menjadi motivasi bagi siswa untuk belajar lebih baikdisekolah. Perilaku
yang simpatik dan dapat menjadi teladan seorang guru atau administrasi dapat
menjadi pendorong bagi siswa untuk belajar.
2) Lingkungan
sosial massyarakat. Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa akan
memengaruhi belajar siswa. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran dan
anak terlantar juga dapat memengaruhi aktivitas belajarsiswa, paling tidak
siswa kesulitan ketika memerlukan teman belajar, diskusi, atau meminjam
alat-alat belajar yang kebetulan belum dimilkinya.
3) Lingkungan
sosial keluarga. Lingkungan ini sangat memengaruhi kegiatan belajar. Ketegangan
keluarga, sifat-sifat orangtua, demografi keluarga (letak rumah),
pengelolaankeluarga, semuannya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar
siswa. Hubungan anatara anggota keluarga, orangtua, anak, kakak, atau adik yang
harmonis akan membantu siswa melakukan aktivitas belajar dengan baik.
b. Lingkungan
non sosial
Faktor-faktor yang
termasuk lingkungan nonsosial adalah :
1) Lingkungan
alamiah, seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, sinar
yang tidak terlalu silau/kuat, atau tidak terlalu lemah/gelap, suasana yang
sejuk dantenang. Lingkungan alamiah tersebut mmerupakan factor-faktor yang
dapat memengaruhi aktivitas belajar siswa. Sebaliknya, bila kondisi lingkungan
alam tidak mendukung, proses belajar siswa akan terlambat.
2) Faktor
instrumental,yaitu perangkat belajar yang dapat digolongkan dua macam. Pertama,
hardware, seperti gedung sekolah, alat-alat belajar,fasilitas belajar, lapangan
olah raga dan lain sebagainya. Kedua, software, seperti kurikulum sekolah,
peraturan-peraturan sekolah, bukupanduan, silabi dan lain sebagainya.
3) Faktor
materi pelajaran (yang diajarkan ke siswa). Factor ini hendaknya disesuaikan
dengan usia perkembangan siswa begitu juga denganmetode mengajar guru,
disesuaikandengan kondisi perkembangan siswa. Karena itu, agar guru dapat
memberikan kontribusi yang postif terhadap aktivitas belajr siswa, maka guru
harus menguasai materi pelajaran dan berbagai metode mengajar yang dapat
diterapkan sesuai dengan konsdisi siswa.
B.
Pengaturan
Kondisi Kelas Dan Iklim Belajar
Pengaturan
lingkungan belajar sangat diperlukan agar anak mampu melakukan kontrol terhadap
pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Lingkungan belajar yang memberi kebebasan
kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat
secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan
dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif. ltulah sebabnya,
mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan
sesuai dengan apa yang mampu dan mau dilakukannya.
1. Penciptaan
lingkungan fisik kelas yang kondusif
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh
guru dalam menata lingkungan fisik kelas menurut Loisell (Winataputra, 2003:
9.22) yaitu:
a. Visibility
(KeleluasaanPandangan)
Visibility artinya
penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan
siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan
yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa
kegiatan pembelajaran.
b. Accesibility
(mudah dicapai)
Penataan ruang harus
dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang yang
dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk
harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah
dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja.
c. Fleksibilitas
(Keluwesan)
Barang-barang di dalam
kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan
pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses
pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok.
d. Kenyamanan
Kenyamanan disini
berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
e. Keindahan
Prinsip keindahan ini
berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif
bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat
berengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan
pembelajaran yang dilaksanakan.
1) Penataan
ruang belajar sebagai sentra belajar
Penyusunan
dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan
memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah
laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu
diperhatikan yaitu:
a. Ukuran
bentuk kelas
b. Bentuk
serta ukuran bangku dan meja
c. Jumlah
siswa dalam kelas
d. Jumlah
siswa dalam setiap kelompok
e. Jumlah
kelompok dalam kelas
f. Komposisi
siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan
wanita).
2) Pemajangan
gambar dan warna
Pemajangan
gambar dan pemilihan warna perlu mempertimbangkan saran-saran berikut.
a. Siswa
perlu dilibatkan dalam pengadaan dan penataan pajangan-pajangan yang dibutuhkan
dalam kelas. Siswa, misalnya, dapat diminta membuat gambar, poster, motto,
puisi, atau petikan ayat, hadis, dan pesan tokoh tertentu, untuk dipilih dan
dipajang dalam kelas.
b. Guna
menghindari kejenuhan terhadap gambar dan isi poster afirmasi yang sama, guru
perlu secara priodik mengganti gambar-gambar atau poster-poster tersebut.
c. Guna
mengoptimalkan penataan ruang, maka hasil-hasil pekerjaan siswa sebaiknya
dipajangkan untuk memenuhi ruang kelas. karya-karya terpilih siswa yang
dipajang dapat berfungsi sebagai reward dan praise yang dapat memotivasi siswa
untuk bekerja lebih baik dan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain.
3) Ventilasi
dan pengaturan cahaya
Suhu,
ventilasi dan penerangan (kendati pun guru sulit mengatur karena sudah ada)
adalah aset penting untuk terciptamya suasana belajar yang nyaman. Oleh karena
itu, ventilasi harus cukup menjamin kesehatan siswa.
4) Pengaturan
penyimpanan barang-barang
Barang-barang
hendaknya disimpan pada tempat khusus yang mudah dicapai kalau segera
diperlukan dan akan dipergunakan bagi kepentingan belajar. Barang-barang yang
karena nilai praktisnya tinggi dan dapat disimpan di ruang kelas seperti buku
pelajaran, pedoman kurikulum, kartu pribadi dan sebagainya, hendaknya
ditempatkan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu gerak kegiatan
siswa.Tentu saja masalah pemeliharaan juga sangat penting dan secara periodik
harus dicek dan recek. Hal lainnya adalah pengamanan barang-barang tersebut.
Baik dari pencurian maupun barang-barang yang mudah meledak atau terbakar. Hal
lain yang perlu diperhatikan dalam penciptaan lingkungan fisik tempat belajar
adalah kebersihan dan kerapihan. Seyogyanya guru dan siswa turut aktif dalam
membuat keputusan mengenai tata ruang, dekorasi dan sebagainya.
C.
Kondisi
yang Mempengaruhi Iklim belajar
1. Kondisi
Sosio-Emosional
Kondisi sosio emosional dalam kelas akan mempunyai
pengaruh yang cukup besar terhadap proses belajar mengajar, kegairahan siswa
dan efektifitas tercapainya tujuan pengajaran. Kondisi sosio-emosional tersebut
meliputi :
a. Tipe
kepemimpinan
Peranan
guru dan tipe kepemimpinan guru akan mewarnai suasana emosional di dalam kelas.
Apakah guru melaksanakan kepemimpinannya secara demokratis, laisez faire atau
demokratis. Kesemuanya itu memberikan dampak kepada peserta didik. Tipe
kepemimpinan guru, artinya adalah fungsi yang melakat pada guru ketika berada
dalam kelas. Gaya apa yang muncul ketika guru melaksanakan peran sebagai
pemimpin dalam pembelajaran di kelas. Apakah gaya otoriter segala sesuatunya
diatur dan diarahkan oleh sendiri dan siswa tidak diberikan kesempatan untuk
terlibat didalamnya, atau gaya demokrasi dimana terjadi proses timbal balik
antara guru dan murid sesuai dengan peranannya masing-masing.
b. Sikap
guru
Sikap
guru dalam menghadapi siswa yang melanggar peraturan sekolah hendaknya tetap
sabar, dan tetap bersahabat dengan suatu keyakinan bahwa tingkah laku siswa
akan dapat diperbaiki. Kalaupun guru terpaksa membenci, bencilah tingkah
lakunya bukan membenci siswanya. Terimalah siswa dengan hangat sehingga ia
insyaf akan kesalahannya. Berlakulah adil dalam bertindak. Ciptakan satu
kondisi yang menyebabkan siswa sadar akan kesalahannya sehingga ada dorongan
untuk memperbaiki kesalahannya. sikap yang diperlihatkan oleh guru di depan
kelas atau di luar kelas yang akan mempengaruhi mood anak, apakah anak merasa
tertarik dengan sikap guru atau malah tidak tertarik. Sikap yang baik sebagai
seorang guru, bapak/ibu, kakak, orang dewasa yang memberikan bimbingan tentunya
adalah hal yang paling baik diperlihatkan
c. Suara
guru
Suara
guru, walaupun bukan faktor yang besar, turut mempengaruhi dalam proses belajar
mengajar. Suara yang melengking tinggi atau senantiasa tinggi atau malah
terlalu rendah sehingga tidak terdengar oleh siswa akan mengakibatkan suasana
gaduh, bisa jadi membosankan sehingga pelajaran cenderung tidak diperhatikan.
Suara hendaknya relatif rendah tetapi cukup jelas dengan volume suara yang
penuh dan kedengarannya rileks cenderung akan mendorong siswa untuk
memperhatikan pelajaran, dan tekanan suara hendaknya bervariasi agar tidak
membosankan siswa.
d. Pembinaan
hubungan baik (raport)
Pembinaan
hubungan baik (raport) antara guru dan siswa dalam masalah pengelolaan kelas
adalah hal yang sangat penting. Dengan terciptanya hubungan baik guru-siswa,
diharapkan siswa senantiasa gembira, penuh gairah dan semangat, bersikap
optimistik, relaistik dalam kegiatan belajar yang sedang dilakukannya serta
terbuka terhadap hal-hal yang ada pada dirinya. Pembinaan hubungan baik,
hubungan antara guru dengan murid harus dibangun berdasarkan fungsi masing-masing
dalam konteks belajar mengajar dikelas, akan tetapi apabila memungkinkan dapat
juga dibangun sifat-sifat kekeluargaan dan keakraban yang menyebabkan siswa
merasa nyaman dan aman berhubungan seperti dengan ibu dan bapaknya dirumah.
2. Kondisi
Organisasional
Kegiatan rutin yang secara organisasional dilakukan
baik tingkat kelas maupun tingkat sekolah akan dapat mencegah masalah
pengelolaan kelas. Dengan kegiatan rutin yang telah diatur secara jelas dan
telah dikomunikasikan kepada semua siswa secara terbuka sehingga jelas pula
bagi mereka, akan menyebabkan tertanamnya pada diri setiap siswa kebiasaan yang
baik. Di samping itu mereka akan terbiasa bertingkah laku secara teratur dan
penuh disiplin pada semua kegiatan yang bersifat rutin itu. Kegiatan rutinitas
tersebut anatar lain:
a. Pergantian
pelajaran, ketika terjadi penggantian dalam pelajaran harus disikapi oleh guru
karena dalam proses ini ada jeda (kekosongan) yang memungkinkan terjadinya
interaksi yang tidak diharapkan dari siswa dengan siswa lainnya. Perlu disikapi
dengan arif bahwa ketika mengahiri pelajaran guru tidak terlalu cepat karena
guru selanjutnya apakah sudah tiba dan apabila belum maka masa jeda itu terlalu
lama.
b. Guru
berhalangan hadir, guru yang berhalangan hadir akan menyebabkan terjadinya
kekosongan dalam proses belajar mengajar. Untuk menghindari terjadinya
keributan atau perilaku-perilaku yang tidak diharapkan dari siswa seperti
berlarian kesanaha kemari menggangu kelas lain, dan menimbulkan kerusakan pada
fasilitaskelas, maka guru piket harus paham apa yang terjadi dan mempersiapkan
diri untuk menutup ketidakhadiran tersebut.
c. Masalah
antar siswa, masalah antar siswa biasanya terjadi karena kondisi emosional yang
tidak terkendali dan tidak terorganisasikan oleh guru. Guru harus memahami
karakteristik dan potensi guru sehingga dapat dipahami keseluruhan perilaku
masing-masing dan menekan munculnya konflik diantaranya.
d. Upacara
bendera, pada saat upacara bendera siswa harus diorganisasikan berdasarkan
tingkatan kelas sehingga mereka dapat tertib mengikuti kegiatan upacara
bendera.
e. Kegiatan
lain ; kesehatan dan kehadiran siswa, penyampaian informasi dari sekolah kepada
guru dan siswa, peraturan sekolah yang baru, kegiatan rekreasi dan sosial.
Daftar Rujukan
Ahmadi, Abu, Widodo Supriyono.2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Winataputra.
1998. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : Pusat Penerbitan Universitas Terbuka
Sangat membantu sekali kak.. 🤩
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusterimakasih banyak
HapusSangat bagus materinya ����
BalasHapusSangat bagus
BalasHapusTerima kasih, sangat bermanfaat sekali
BalasHapusSangat membantu
BalasHapusSangat bermanfaat kak
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusSangat bermanfaat kak👍
BalasHapusterimakasih kak
HapusSangat bermanfaat kak, terimakasih.
BalasHapusTerimakasih, sangat membantu
BalasHapusSangat bermanfaat sekali kak
BalasHapusMaterinya bermanfaat kak
BalasHapusTerima kasih kak materinya
BalasHapusmakasih koment dan sarannya
BalasHapus