Tugas 5 Manajemen Kelas


Tugas Manajemen Kelas Di SD
tentang
“Komponen Keterampilan Menajemen Kelas”


Oleh :
Tri Putri Lestari
1620145
Kelas :  7.4 pgsd


DOSEN PEMBIMBING:
Yessi Rifmasari M.Pd




PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD)
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN & ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
ADZKIA PADANG
2019

A.        Pengertian Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Dalam pengelolaan kelas seorang guru harus menguasai komponen-kompone keterampilan sebagai modal bagi guru dalam mengelola kelasnya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, komponen diartikan dengan bagian dari keseluruhan dari unsur. Sementara keterampilan berasal dari kata terampil. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata terampil diartikan sebagai cakap dalam menyelesaikan tugas, mampu, dan cekatan. Sementara keterampilan diartikan sebagai kecekapan untuk menyelesaikan tugas. Jadi, komponen keterampilan manajemen kelas adalah keseluruhan kemampuan yang dimiliki oleh guru dalam menyelesaikan tugasnya sebagai manajeman kelas.
Keterampilan pengelolaan kelas berkaitan dengan kompetensi pedagogis. Iklim kelas yang kondusif untuk belajar ikut mempengaruhi kesuksesan guru dalam mengantarkan siswa mencapai tujuan pembelajaran.


B.        Macam Macam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
Komponen-komponen keterampilan pengelolaan kelas ini pada umumnya dibagi menjadi dua bagian, yaitu keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat preventif ) dan keterampilan yang berhubungan dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal.
1.      Keterampilan yang Berhubungan dengan Penciptaan dan Pemeliharaan Kondisi Belajar yang Optimal
Keterampilan ini berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran, yaitu :
a.       Singkap Tanggap
Di dalam melakukan pengelolaan kelasnya, seorang guru harus mempunyai sikap tanggap terhadap apa saja yang tengah berlangsung di dalam kelasnya. Ia tidak semata-mata melakukan pengajaran. Ada banyak hal lain yang harus diperhatikan dan menanggapinya. Jadi sebenarnya tugas guru dalam mengajar itu sifatnya multitasking. Dalam sekali waktu ia harus menciptakan kondisi belajar yang baik untuk efektivitas pengajaran, juga sekaligus memelihara kondisi yang telah tercipta. Keterampilan sikap tanggap ini dapat dilakukan dengan cara memandang secara seksama, gerakan mendekat, memberi pertanyaan, dan memberi reaksi terhadap gangguan dan ketakacuhan. 
b.      Membagi Perhatian
Ketika guru melakukan tugasnya sebagai pengajar di dalam sebuah kelas, pengelolaan kelas dalam kaitan dengan pembagian perhatian terhadap seluruh siswa dan hal-hal lain yang ada di kelas harus dilakukan. Guru yang terlalu terfokus pada pembelajarannya semata, atau pada suatu hal lainnya akan menjadi abai terhadap kejadian-kejadian penting lainnya dalam kelasnya, padahal bisa saja kejadiaan atau situasi itu dapat merusak efektivitas proses pembelajaran siswa.
c.    Keterampilan memberi perhatian adalah dengan cara visual dan verbal
Kepada seluruh siswa yang ada di dalam kelasnya, guru dapat menunjukkan bahwa ia selalu memperhatikan mereka semua, apakah mereka ikut proses pembelajaran dengan baik atau tidak. Untuk ini, guru dapat menunjukkan bahwa ia memperhatikan mereka melalui beragam cara, yaitu dapat secara visual (gerakan, bahasa tubuh, atau mimik), atau dapat juga langsung secara verbal (melalui kata-kata yang diucapkannya)
d.      Pemusatan Perhatian Kelompok
Ketika semua siswa sedang berada di dalam kelompoknya dan mengerjakan sebuah tugas belajar yang diberikan, adakalanya guru memerlukan perhatian mereka sesaat untuk menyampaikan sesuatu yang sifatnya klasikal. Maka guru harus memiliki keterampilan pemusatan perhatian kelompok untuk kebutuhan semacam ini. 
2.      Keterampilan yang Berhubungan dengan Pengembangan Kondisi Belajar yang Optimal.
Keterampilan ini berkaitan dengan tanggapan guru terhadap gangguan anak didik yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remidial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal. Apabila terdapat anak didik yang menimbilkan gangguan yang berulang-ulang meskipun guru telah menggunakan tingkah laku dan tanggapan yang sesuai. Hal ini dapat dilakukan dengan cara :
a.       Modifikasi Tingkah Laku
Beberapa tingkah laku negatif seringkali telah menjadi kebiasaan segelintir siswa. Agar hal ini tidak selalu menjadi hambatan di dalam kelas, maka guru dapat memodifikasi tingkah laku negatif ini menjadi tingkah laku yang positif. Ini tentunya bukan hal yang mudah. Membalikkan kebiasaan buruk siswa menjadi kebiasaan baik memerlukan waktu, kesabaran, dan teknik-teknik tertentu yang dipilih dengan sangat hati-hati.
b.      Pendekatan Pemecahan Masalah Kelompok
Di dalam sebuah kelompok belajar, siswa saling berinteraksi. Dalam melakukan interaksi untuk proses pembelajaran tidak jarang pula terjadi permasalahan-permasalahan yang memerlukan penanganan bantuan dari guru. Guru perlu memfasilitasi kelompok-kelompok semacam ini untuk menyelesaikan masalah mereka sehingga kegiatan belajar mereka dapat menjadi lebih optimal.
c.       Menemukan Tingkah Laku yang Menimbulkan Masalah
Guru yang sangat memperhatikan kelasnya dengan jeli akan dapat menemukan tingkah laku-tingkah laku siswa yang berpotensi akan menimbulkan masalah. Ini adalah keterampilan penting yang harus dikuasai guru sehingga masalah-masalah yang muncul segera dapat diatasi dan tidak menjadi semakin besar dan merugikan pembelajaran dalam kelas yang bersangkutan. 
d.      Memecahkan Tingkah Laku yang Menimbulkan Masalah
Apabila guru telah mengidentifikasi dan menemukan masalah yang muncul dari tingkah laku siswa, maka ia selanjutnya harus memecahkan permasalahan tersebut agar tidak lagi menjadi gangguan bagi pengelolaan kelasnya. Ini penting agar pembelajaran dapat dberlangsung efektif dan efisien.
C.        Permasalahan dalam Komponen Keterampilan Manajemen Kelas
1.    Masalah Individual 
Ada empat jenis penyimpangan tingkah laku, yaitu tingkah laku menarik perhatian orang lain,mencari kekuasaan, menuntut balas dan memperlihatkan ketidakmampuan.Keempat tingkah laku ini diurutkan makin lama makin berat. Misalnya, seorang anak yang gagal menarik perhatian orang lain boleh jadi menjadi anak yang mengejar kekuasaan.
a)      Attention getting behaviors (pola perilaku mencari perhatian) 
Seorang siswa yang gagal menemukan kedudukan dirinya secara wajar dalam suasana hubungan sosial yang saling menerima biasanya (secara aktif ataupun pasif) bertingkah laku mencari perhatian orang lain. Tingkah laku destruktif pencari perhatian yang aktif dapat dijumpai pada anak-anak yang suka pamer, melawak(memperolok), membuat onar, memperlihatkan kenakalan, terus menerus bertanya; singkatnya, tukang rewel.
b)      Powerseeking behaviors (pola perilaku menunjukkan kekuatan/kekuasaan) 
Tingkah laku mencari kekuasaan sama dengan perhatian yang destruktif, tetapi lebih mendalam. Pencari kekuasaan yang aktif suka mendekat, berbohong, menampilkan adanya pertentangan pendapat, tidak mau melakukan yang diperintahkan orang lain dan menunjukkan sikap tidak patuh secara terbuka. Pencari kekuasaan yang pasif tampak pada anak-anak yang amat menonjolkan kemalasannya sehingga tidak melakukan apa-apa sama sekali. Anak-anak ini amat pelupa, keras kepala, dan secara pasif memperlihatkan ketidakpatuhan.
c)      Revenge seeking behaviors (pola perilaku menunjukkan balas dendam) 
Siswa yang menuntut balas mengalami frustasi yang amat dalam dan tidak menyadari bahwa dia sebenarnya mencari sukses dengan jalan menyakiti orang lain. Keganasan, penyerangan secara fisik (mencakar, menggigit, menendang) terhadap sesama siswa, petugas atau pengusaha, ataupun terhadap binatang sering dilakukan anak-anak ini.
d)     Helplessness (peragaan ketidakmampuan) 
 Siswa yang memperlihatkan ketidakmampuan pada dasarnya merasa amat tidak mampu berusaha mencari sesuatu yang dikehendakinya (yaitu rasa memiliki) yang bersikap menyerah terhadap tantangan yang menghadangnya; bahkan siswa ini menganggap bahwa yang ada dihadapannya hanyalah kegagalan yang terus menerus.

2.    Masalah Kelompok
Ada tujuh masalah kelompok dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas:
a.    Kurangnya kekompakan : Kurangnya kekompakan kelompok ditandai dengan adanya kekurang-cocokkan (konflik) diantara para anggota kelompok.Konflik antara siswa-siswa dari kelompok yang berjenis kelamin atau bersuku berbeda termasuk kedalam kategori kekurang-kompakan ini. Siswa-siswa di kelas seperti ini akan merasa tidak senang dengan kelompok kelasnya sehingga mereka tidak merasa tertarik dengan kelas yang mereka duduki itu. Para siswa tidak saling bantu membantu.
b.    Kesulitan mengikuti peraturan kelompok : Jika suasana kelas menunjukkan bahwa siswa-siswa tidak mematuhi aturan-aturan kelas yang telah ditetapkan, maka masalah yang kedua muncul, yaitu kekurang-mampuan mengikuti peraturan kelompok.
c.    Reaksi negatif terhadap sesama anggota kelompok : Reaksi negatif terhadap anggota kelompok terjadi apabila ekspresi yang bersifat kasar yang dilontarkan terhadap anggota kelompok yang tidak diterima oleh kelompok itu.
d.   Penerimaan kelas (kelompok) atas tingkah laku yang menyimpang :Penerimaan kelompok (kelas) atas tingkah laku yang menyimpang terjadi apabila kelompok itu mendorong timbulnya dan mendukung anggota kelompok yang bertingkah laku menyimpang dari norma-norma sosial pada umumnya. 
e.    Kegiatan anggota atau kelompok yang menyimpang dari ketentuan yang telah ditetapkan, berhenti melakukan kegiatan atau hanya meniru-niru kegiatan orang (anggota) lainnya saja.Masalah kelompok anak timbul dari kelompok itu mudah terganggu dalam kelancaran kegiatannya.

Daftar Rujukan
Mulyasa, E. 2013. Menjadi Guru Profesional. Bandung : PT REMAJA ROSDAKARYA.

Sartika, Dewi.2014. Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas. Jambi : Universitas Jambi.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar dan Mengajar

Tugas Manajemen Pembelajaran

Tugas 9 Manajemen